Arsitek
Arsitek di depan papan gambarnya, 1893.
Istilah arsitek seringkali diartikan secara sempit sebagai seorang perancang bangunan, adalah orang yang terlibat dalam perencanaan, merancang, dan mengawasi konstruksi bangunan, yang perannya untuk memandu keputusan yang memengaruhi aspek bangunan tersebut dalam sisi astetika, budaya, atau masalah sosial. Definisi tersebut kuranglah tepat karena lingkup pekerjaan seorang arsitek sangat luas, mulai dari lingkup interior ruangan, lingkup bangunan, lingkup kompleks bangunan, sampai dengan lingkup kota dan regional. Karenanya, lebih tepat mendefinisikan arsitek sebagai seorang ahli di bidang ilmu arsitektur, ahli rancang bangun atau lingkungan binaan.
Arti lebih umum lagi, arsitek adalah sebuah perancang skema atau rencana.
"Arsitek" berasal dari Latin architectus, dan dari bahasa Yunani: architekton (master pembangun), arkhi (ketua) + tekton (pembangun, tukang kayu).
Dalam penerapan profesi, arsitek berperan sebagai pendamping, atau wakil dari pemberi tugas (pemilik bangunan). Arsitek harus mengawasi agar pelaksanaan di lapangan/proyek sesuai dengan bestek dan perjanjian yang telah dibuat. Dalam proyek yang besar, arsitek berperan sebagai direksi, dan memiliki hak untuk mengontrol pekerjaan yang dilakukan kontraktor. Bilamana terjadi penyimpangan di lapangan, arsitek berhak menghentikan, memerintahkan perbaikan atau membongkar bagian yang tidak memenuhi persyaratan yang disepakati.
Praktik arsitek
Di dunia keprofesian arsitektur, pengetahuan teknis, manajemen, dan ilmu bisnis adalah aspek yang sangat penting disamping pengetahuan terhadap ilmu merancang itu sendiri. Seorang arsitek disewa oleh klien untuk melakukan studi kelayakan, audit bangunan, mendesain bangunan dan struktur.mungkin desain bukan segalanya , tapi segalanya itu pasti di desain !
Apa sih tugas Arsitek?
Tulisan pendek ini saya buat untuk meluruskan kesalahpahaman yang
sering dimiliki orang awam yang menganggap bahwa seorang Arsitek adalah
seorang tukang gambar. Pada kenyataannya, dalam sebuah tim desain,
seorang juru gambar (Drafter) adalah anak buah seorang Arsitek.
Menggambar bukanlah pekerjaan utama seorang Arsitek, lantas apa
sebenarnya pekerjaan arsitek?
Seorang Arsitek adalah seorang ahli dalam bidang desain bangunan. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyaratkan bahwa untuk bisa menyebut diri sendiri sebagai seorang Arsitek dan bisa berprofesi sebagai Arsitek di tengah-tengah masyarakat, seseorang harus memenuhi semua persyaratan berikut: 1) Sudah menyelesaikan pendidikan formal di bidang Arsitektur, 2) Memiliki pengalaman bekerja dengan seorang Arsitek Madya atau Utama (diterangkan kemudian) atau di sebuah perusahaan desain arsitektur (sering disebut dengan Biro Konsultan Arsitektur), 3) Mengikuti program-program penataran yang diadakan IAI, dan 4) Lulus ujian Sertifikasi Keahlian Arsitek (SKA) yang diadakan IAI.
Berdasarkan keahlian dan sertifikat yang dipegangnya, seorang Arsitek dibedakan menjadi: Arsitek Pratama (junior), Arsitek Madya (menengah), dan Arsitek Utama (senior). Sertifikat yang dipegang seorang Arsitek akan menentukan bangunan-bangunan yang boleh dan tidak boleh didesain seorang Arsitek, dilihat berdasar kompleksitasnya. Sementara Arsitek Utama boleh mendesain bangunan-bangunan rumit seperti bandar udara, rumah sakit, dsb, seorang Arsitek Pratama hanya boleh mendesain rumah dan bangunan-bangunan lain yang memiliki kerumitan rendah.
Di Indonesia, pendidikan S1 Arsitektur berlangsung selama 4 tahun, dimana setelah itu seorang lulusan Arsitektur harus lebih dulu mengikuti program-program penataran yang diadakan IAI dan memiliki pengalaman kerja sebelum dapat mengikuti ujian SKA. Sementara di Amerika Serikat, pendidikan S1 Arsitektur berlangsung selama 5 tahun, dimana setelah itu lulusan Teknik Arsitektur dapat langsungmengikuti ujian SKA Amerika Serikat.
Selama kuliah S1-nya, seorang mahasiswa Arsitektur umumnya mempelajari hal-hal berikut: proporsi tubuh manusia, psikologi manusia dalam ruang, pengolahan ruang, pengolahan bentuk, dasar-dasar seni rupa, cara kerja berbagai tipe bangunan (kantor, pusat perbelanjaan, dll), dasar ilmu Struktur, dasar ilmu Utilitas Bangunan (penerapan ilmu Elektro dan Mesin dalam bangunan), dasar desain interior, dasar manajemen proyek, dan teknik menggambar.
Dengan bekal pendidikannya, pekerjaan seorang Arsitek di antaranya adalah:
1. Menata letak bangunan-bangunan yang memiliki keterikatan fungsi dalam sebuah site dan mendesain site tersebut.
2. Mengolah tata ruang sebuah bangunan
3. Menentukan konsep desain interior sebuah bangunan (termasuk perletakan furniturenya, dll).
4. Mengolah bentuk luar dan tampak sebuah bangunan.
5. Menentukan jenis dan letak sistem struktur pada bangunan.
6. Menentukan jenis dan letak instalasi listrik pada bangunan.
7. Menentukan jenis dan letak instalasi pipa air dan jalur penghawaan udara.
8. Menentukan jenis dan letak alat-alat transportasi dalam bangunan (lift, dsb).
9. Menghitung biaya konstruksi sebuah bangunan.
B. Kolaborasi Arsitek dan Insinyur Lainnya
Setelah mengetahui hal-hal yang dipelajari seorang mahasiswa Arsitektur selama perkuliahan S1 nya, kini dapat diketahui bahwa objek desain Arsitek bukan hanya rumah, sebagaimana yang sering dipahami orang awam, tapi segala macam bangunan yang terdapat aktivitas manusia di dalamnya, seperti sekolah, kampus, gedung perkantoran, hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, stadion bola, fasilitas olahraga, bandar udara, pelabuhan, stasiun kereta api, tempat ibadah, hingga rumah sakit.
Seorang Arsitek dapat bekerja sendiri untuk melahirkan desain bangunan-bangunan yang memiliki kompleksitas sederhana. Akan tetapi, seorang Arsitek perlu bekerja sama dengan insinyur-insinyur teknik dari disiplin ilmu lainnya untuk melahirkan desain bangunan-bangunan yang memiliki kompleksitas tinggi, seperti bandar udara, rumah sakit, ataupun gedung-gedung tinggi. Dalam sebuah tim desain bangunan, umumnya seorang Arsitek bertindak sebagai Kepala Desainer (Chief Designer), dimana para insinyur teknik lain harus mengikuti desain yang sudah dibuatnya. Pada tahap Konsep Desain, Arsitek akan memperlihatkan ide-ide yang dimilikinya menyangkut bentuk bangunan, desain interiornya, sistem struktur, mekanikal, dan elektrikal untuk bangunan tersebut dalam bentuk sketsa-sketsa, gambar 2 dan 3 dimensi. Selanjutnya, dalam tahap Pengembangan Desain, Arsitek akan memberikan gambar-gambar tersebut untuk diperiksa aspek teknisnya dan dikembangkan oleh Insinyur Sipil, Elektro, Mesin, Desainer Interior, dan pakar-pakar lainnya.
Ketika mendesain sebuah bangunan yang memiliki kerumitan tinggi, adalah tidak mungkin bagi Arsitek untuk mengembangkan gambar-gambar tersebut seorang diri. Selain akan memakan terlalu banyak waktu, hal tersebut juga tidak didukung oleh bekal pendidikan Arsitek sendiri. Selama perkuliahan S1 nya, seorang mahasiswa Arsitek hanya mempelajari dasar dari ilmu Struktur dan Utilitas Bangunan. Detail masing-masing ilmu tersebut tidak dipelajari mahasiswa Arsitektur dan merupakan pelajaran mahasiswa Teknik Sipil, Elektro, dan Mesin.
Sebagai contoh, walaupun seorang Arsitek dapat mengira-ngira ukuran-ukuran tiang (biasa disebutkolom) untuk sebuah bangunan tinggi, seorang Arsitek tidak dapat mengetahui jenis beton, detail tulangan besi, ataupun mutu besi yang harus ada di dalamnya. Ini karena mahasiswa Arsitektur tidak mempelajari Mekanika Teknik, karakteristik material beton, maupun besi secara mendalam, yang merupakan pelajaran mahasiswa Teknik Sipil.
Seorang Arsitek adalah seorang ahli dalam bidang desain bangunan. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyaratkan bahwa untuk bisa menyebut diri sendiri sebagai seorang Arsitek dan bisa berprofesi sebagai Arsitek di tengah-tengah masyarakat, seseorang harus memenuhi semua persyaratan berikut: 1) Sudah menyelesaikan pendidikan formal di bidang Arsitektur, 2) Memiliki pengalaman bekerja dengan seorang Arsitek Madya atau Utama (diterangkan kemudian) atau di sebuah perusahaan desain arsitektur (sering disebut dengan Biro Konsultan Arsitektur), 3) Mengikuti program-program penataran yang diadakan IAI, dan 4) Lulus ujian Sertifikasi Keahlian Arsitek (SKA) yang diadakan IAI.
Berdasarkan keahlian dan sertifikat yang dipegangnya, seorang Arsitek dibedakan menjadi: Arsitek Pratama (junior), Arsitek Madya (menengah), dan Arsitek Utama (senior). Sertifikat yang dipegang seorang Arsitek akan menentukan bangunan-bangunan yang boleh dan tidak boleh didesain seorang Arsitek, dilihat berdasar kompleksitasnya. Sementara Arsitek Utama boleh mendesain bangunan-bangunan rumit seperti bandar udara, rumah sakit, dsb, seorang Arsitek Pratama hanya boleh mendesain rumah dan bangunan-bangunan lain yang memiliki kerumitan rendah.
Di Indonesia, pendidikan S1 Arsitektur berlangsung selama 4 tahun, dimana setelah itu seorang lulusan Arsitektur harus lebih dulu mengikuti program-program penataran yang diadakan IAI dan memiliki pengalaman kerja sebelum dapat mengikuti ujian SKA. Sementara di Amerika Serikat, pendidikan S1 Arsitektur berlangsung selama 5 tahun, dimana setelah itu lulusan Teknik Arsitektur dapat langsungmengikuti ujian SKA Amerika Serikat.
Selama kuliah S1-nya, seorang mahasiswa Arsitektur umumnya mempelajari hal-hal berikut: proporsi tubuh manusia, psikologi manusia dalam ruang, pengolahan ruang, pengolahan bentuk, dasar-dasar seni rupa, cara kerja berbagai tipe bangunan (kantor, pusat perbelanjaan, dll), dasar ilmu Struktur, dasar ilmu Utilitas Bangunan (penerapan ilmu Elektro dan Mesin dalam bangunan), dasar desain interior, dasar manajemen proyek, dan teknik menggambar.
Dengan bekal pendidikannya, pekerjaan seorang Arsitek di antaranya adalah:
1. Menata letak bangunan-bangunan yang memiliki keterikatan fungsi dalam sebuah site dan mendesain site tersebut.
2. Mengolah tata ruang sebuah bangunan
3. Menentukan konsep desain interior sebuah bangunan (termasuk perletakan furniturenya, dll).
4. Mengolah bentuk luar dan tampak sebuah bangunan.
5. Menentukan jenis dan letak sistem struktur pada bangunan.
6. Menentukan jenis dan letak instalasi listrik pada bangunan.
7. Menentukan jenis dan letak instalasi pipa air dan jalur penghawaan udara.
8. Menentukan jenis dan letak alat-alat transportasi dalam bangunan (lift, dsb).
9. Menghitung biaya konstruksi sebuah bangunan.
B. Kolaborasi Arsitek dan Insinyur Lainnya
Setelah mengetahui hal-hal yang dipelajari seorang mahasiswa Arsitektur selama perkuliahan S1 nya, kini dapat diketahui bahwa objek desain Arsitek bukan hanya rumah, sebagaimana yang sering dipahami orang awam, tapi segala macam bangunan yang terdapat aktivitas manusia di dalamnya, seperti sekolah, kampus, gedung perkantoran, hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, stadion bola, fasilitas olahraga, bandar udara, pelabuhan, stasiun kereta api, tempat ibadah, hingga rumah sakit.
Seorang Arsitek dapat bekerja sendiri untuk melahirkan desain bangunan-bangunan yang memiliki kompleksitas sederhana. Akan tetapi, seorang Arsitek perlu bekerja sama dengan insinyur-insinyur teknik dari disiplin ilmu lainnya untuk melahirkan desain bangunan-bangunan yang memiliki kompleksitas tinggi, seperti bandar udara, rumah sakit, ataupun gedung-gedung tinggi. Dalam sebuah tim desain bangunan, umumnya seorang Arsitek bertindak sebagai Kepala Desainer (Chief Designer), dimana para insinyur teknik lain harus mengikuti desain yang sudah dibuatnya. Pada tahap Konsep Desain, Arsitek akan memperlihatkan ide-ide yang dimilikinya menyangkut bentuk bangunan, desain interiornya, sistem struktur, mekanikal, dan elektrikal untuk bangunan tersebut dalam bentuk sketsa-sketsa, gambar 2 dan 3 dimensi. Selanjutnya, dalam tahap Pengembangan Desain, Arsitek akan memberikan gambar-gambar tersebut untuk diperiksa aspek teknisnya dan dikembangkan oleh Insinyur Sipil, Elektro, Mesin, Desainer Interior, dan pakar-pakar lainnya.
Ketika mendesain sebuah bangunan yang memiliki kerumitan tinggi, adalah tidak mungkin bagi Arsitek untuk mengembangkan gambar-gambar tersebut seorang diri. Selain akan memakan terlalu banyak waktu, hal tersebut juga tidak didukung oleh bekal pendidikan Arsitek sendiri. Selama perkuliahan S1 nya, seorang mahasiswa Arsitek hanya mempelajari dasar dari ilmu Struktur dan Utilitas Bangunan. Detail masing-masing ilmu tersebut tidak dipelajari mahasiswa Arsitektur dan merupakan pelajaran mahasiswa Teknik Sipil, Elektro, dan Mesin.
Sebagai contoh, walaupun seorang Arsitek dapat mengira-ngira ukuran-ukuran tiang (biasa disebutkolom) untuk sebuah bangunan tinggi, seorang Arsitek tidak dapat mengetahui jenis beton, detail tulangan besi, ataupun mutu besi yang harus ada di dalamnya. Ini karena mahasiswa Arsitektur tidak mempelajari Mekanika Teknik, karakteristik material beton, maupun besi secara mendalam, yang merupakan pelajaran mahasiswa Teknik Sipil.
Apa Itu Arsitektur? What is Architecture?
Mungkin banyak orang
yang bertanya atau merasa kata itu tiada artinya. Di sini saya coba
menjabarkan menurut ahli, apakah itu arsitektur, dan lebih detailnya
lagi apakah perbedaan antara arsitektur tradisional dan vernakular.
Mungkin para calon arsitek sendiri masih kebingungan di manakah letak
perbedaannya. Berikut hasil penelusuran saya mengenai makna dari
istilah-istilah tersebut,
Sebagai seni arsitektur mempunyai arti yang lebih dalam dari sekedar usaha pemenuhan persyaratan fungsional semata-mata dalam sebuah program bangunan. Lebih mendasar lagi, merupakan perwujudan fisik dari arsitektur sebagai wadah kegiatan manusia.
Salah satu alasan mengapa manusia membuat bangunan adalah karena kondisi alam iklim tempat manusia berada tidak selalu baik menunjang aktivitas yang dilakukannya. Aktivitas manusia yang bervariasi memerlukan kondisi iklim sekitar tertentu yang bervariasi pula. Untuk melangsungkan aktivitas kantor, misalnya, diperlukan ruang dengan kondisi visual yang baik dengan intensitas cahaya yang cukup; kondisi termis yang mendukung dengan suhu udara pada rentang-nyaman tertentu; dan kondisi audial dengan intensitas gangguan bunyi rendah yang tidak mengganggu pengguna bangunan.
Karena cukup banyak aktivitas manusia yang tidak dapat diselenggarakan akibat ketidaksesuaian kondisi iklim luar, manusia membuat bangunan. Dengan bangunan, diharapkan iklim luar yang tidak menunjang aktivitas manusia dapat dimodifikasi diubah menjadi iklim dalam (bangunan) yang lebih sesuai.” Dikutip dari http://archmagazine.blogspot.com/2009/11/apa-itu-arsitektur.html
“What is architecture anyway? Is it the vast collection of the various buildings which have been built to please the varying taste of the various lords of mankind? I think not.
“No, I know that architecture is life; or at least it is life itself taking form and therefore it is the truest record of life as it was lived in the world yesterday, as it is lived today or ever will be lived. So architecture I know to be a Great Spirit….
“Architecture is that great living creative spirit which from generation to generation, from age to age, proceeds, persists, creates, according to the nature of man, and his circumstances as they change. That is really architecture.” —Frank Lloyd Wright, from In the Realm of Ideas (compare prices)
“”Architecture is a passion, a vocation, a calling – as well as a science and a business. It has been described as a social art and also an artful science. Architecture must be of the highest quality of design. Architecture provides, in the words of Marcus Vitruvius, the great Roman architect and historian, “firmness, commodity and delight.1”
Architecture provides a sense of place and support of all types of human activity. Architecture helps the man-made fit in harmony with the environment while promoting health and well-being, enriching lives aesthetically and spiritually, providing economic opportunities, and creating a legacy that reflects and symbolizes culture and traditions.
1 1st Century BC Roman Architect Vitruvius is the author of the treatise De architectura. The work is divided into 10 books dealing with city planning and architecture in general; building materials; temple construction; public buildings; private buildings; clocks; hydraulics; and civil and military engines. His work was used as a classic text book from ancient Roman times to the Renaissance.
Firmness refers to structural integrity and durability;
Commodity refers to spatial functionality or in other words, “serving its purpose” and fulfilling the function for which the building was constructed;
Delight means that the building is not only aesthetically and visually pleasing, but also lifts the spirits and stimulates the senses.” Dikutip dari http://www.raic.org/architecture_architects/what_is_architecture/index_e.htm
“Architecture … does not re-create reality, but creates a structure for man’s habitation or use, expressing man’s values,” Rand dalam The Romantic Manifesto.
“(n.) A design. The term architecture can refer to either hardware or software, or to a combination of hardware and software. The architecture of a system always defines its broad outlines, and may define precise mechanisms as well.
An open architecture allows the system to be connected easily to devices and programs made by other manufacturers. Open architectures use off-the-shelf components and conform to approved standards. A system with a closed architecture, on the other hand, is one whose design is proprietary, making it difficult to connect the system to other systems.” Dikutip dari http://www.webopedia.com/TERM/A/architecture.html
”Architecture is generally considered an art but is differentiated by it in one respect: function. Regardless, defining architecture is almost, if not as, difficult as defining art. To define architecture is to set parameters, standards by which anything applied to these criteria will either fit the definition or not. The definition must take certain conditions into account that must be present in order for something to be considered architecture. Some of these may include, in reference to a candidate for a piece of architecture: it must be material, it must transcend mere function, it must be aesthetic and it must be designed by an architect. These are some criteria that are generally agreed upon by the public and most architects as necessary traits of architecture. If we look at these briefly, though, small arguments arise that challenge the validity of these claims.” Dikutip dari http://www.archidose.org/Mar00/032700.html
“Architecture, the art of building in which human requirements and construction materials are related so as to furnish practical use as well as an aesthetic solution, thus differing from the pure utility of engineering construction. As an art, architecture is essentially abstract and nonrepresentational and involves the manipulation of the relationships of spaces, volumes, planes, masses, and voids. Time is also an important factor in architecture, since a building is usually comprehended in a succession of experiences rather than all at once. In most architecture there is no one vantage point from which the whole structure can be understood. The use of light and shadow, as well as surface decoration, can greatly enhance a structure.” Dikutip darihttp://www.factmonster.com/ce6/world/A0804589.html
“Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.” Dikutip dari http://desainfo.blogspot.com/2009/01/apa-itu-arsitektur.html
“Arsitektur bukanlah barang baru, sejak dulu menjadi bahan perbincangan, diskusi dan kekaguman bahkan ada pula yang dinista. Sampai kinipun cukup banyak pendapat dan telaah tentang arsitektur. Mulai dari metode merancang, teori, sampai pengaruh dan apresiasi arsitektur. Tak heran jika arsitektur memiliki definisi yang banyak dan beragam. Pada zaman Vitruvius arsitektur identik dengan gedung (termasuk kota/ benteng, aquaduct/instalasi air) tetapi kini kata arsitektur juga dipakai oleh disiplin ilmu lain seperti istilah arsitektur computer, arsitektur internet, arsitektur kapal, arsitektur strategi perang bahkan ada istilah arsitektur parsel. Secara gamblang istilah-istilah itu merujuk pada gagasan atau ide rancangan yang akan diwujudkan menjadi nyata.
Secara spesifik arsitektur adalah keseluruhan proses mulai dari pemikiran/ ide/ gagasan, kemudian menjadi karya/ rancangan, dan diwujudkan menjadi hasil karya nyata yang dilakukan secara sadar (bukan berdasarkan naluri) dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan ruang guna mewadahi aktivitas/ kegiatannya yang diinginkan serta menemukan eksistensi dirinya. Jadi, jika arsitektur tidak pure termasuk kelompok seni juga tidak pure termasuk kelompok teknologi.” –MEMBANGUN FILSAFAT ARSITEKTUR oleh Debbie A. J. Harimu.
”Arsitektur vernacular itu adalah pengejawentahan yang jujur dari tata cara kehidupan masyarakat dan merupakan cerminan sejarah dari suatu tempat.”- Romo Manguwijaya
“Arsitektur vernakular merupakan bentuk perkembangan dari arsitektur tradisional, yang mana arsitektur tradisional sangat lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan kehidupan masyarakat, wawasan masyarakat serta tata laku yang berlaku pada kehidupan sehari-hari masyarakatnya secara umum, sedangkan arsitektur vernakular merupakan transformasi dari situasi kultur homogen ke situasi yang lebih heterogen dan sebisa mungkin menghadirkan citra serta bayang-bayang realitas dari arsitektur tradisional itu sendiri.” -Sonny Susanto, salah seorang dosen arsitek pada Fakultas Teknik UniversitasIndonesia.
“Arsitektur-vernakular sebagai suatu kumpulan rumah dan bangunanpenunjang lain yang sangat terikat dengan tersedianya sumber-sumber darilingkungan.”- Oliver dalam Encyclopedia of vernacular-architecture of the world
“Kata Vernakular berasal dari vernaculus (latin) berarti asli (native). Maka vernakulararsiektur dapatdiartikan sebagai arsitektur asli yang dibangunoleh masyarakat setempat.” Dikutip dari http://ml.scribd.com/doc/45304439/ARSITEKTUR-VERNAKULAR
“Arsitektur vernakular konteks denganlingkungansumber daya setempat yang dibangun oleh suatumasyarakat dengan menggunakan teknologi sederhana untukmemenuhi kebutuhan karakteristik yang mengakomodasi nilaiekonomi dan tantanan budaya masyarakat dari masyarakattersebut. Arsitektur vernakular ini terdiri dari rumah danbangunan lain seperti lumbung, balai adat dan lain sebagainya.”-Paul Oliver dalam Ensikolopedia Arsitektur Vernakular.
“Sebagai produk budaya, arsitektur dipengaruhi oleh faktor lingkungan : geografis, geologis, iklim, suhu; faktor teknologi : pengelolaan sumber daya, ketrampilan teknis bangunan; faktor budaya : falsafah, persepsi, religi, struktur social dan keluarga, dan ekonomi.”-Altmandalam Environtment and culture
“Arsitektur vernakular adalah suatu karya arsitektur yang tumbuh dari arsitektur rakyat dengan segala macam tradisi dan mengoptimalkan atau memanfaatkan potensi-potensi lokal. Misalnya material,teknologi, pengetahuan, dsb. Dikarenakan arsitektur vernakular sangat mengoptimalkan potensi atau budaya lokal, maka suatu bangunan yang berkonsep vernakular sangat mempertimbangkan kelestarian lingkungan sehingga juga bersifat sustainable architecture. Arsitektur vernakular ditemukan secara trial and error oleh rakyat itu sendiri. Jenis arsitektur vernakular yang ada dapat dipisahkan sebagai vernakular-tradisional dan vernakular-modern. Terjadinya bentuk-bentuk atau model vernakular disebabkan oleh enam faktor yang dikenal sebagai modifying factor diantaranya adalah
“Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi. Arsitektur ini tetap bertahan dalam beragam bentuk yang dikenal sebagai bangunan tradisional Indonesia yang umum dipakai dalam berbagai kegunaan, baik sakral maupun non sakral. Bangunan yang termasuk dalam tradisi-tradisi arsitektur vernakular Indonesia yang paling penting dan paling sering dibangun adalah rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal, lumbung, dan berbagai macam tempat penyimpanan dan bangunan umum (balai, bale) yang digunakan sebagai tempat diselenggarakannya ritual, upacara atau pertemuan warga. Di beberapa tempat di Indonesia, bangunan rumah tradisional hampir punah, yang tersisa adalah sebuah rumah yang selamat karena alasan tertentu, atau beberapa rumah yang sengaja dibangun sebagai model tipe rumah tradisional tertentu, atau beberapa rumah yang dibangun berdasarkan arsitektur modern yang ditambah fitur dan karakter tradisi arsitektur vernakular.” – Arsitektur Vernakular Indonesia: Peran, Fungsi, dan Pelestarian di dalam Masyarakat oleh Ade Sahroni
Puslitbang Arkenas
“Tentang arsitektur vernakular Jawa Timur, adalah arsitektur pernaungan, yaitu suatu cara untuk bernaung menghadapi iklim, dimana atap adalah bagian terpenting dari desain arsitektur vernakular. Meskipun demikian, sebenarnya denah maupun luas bangunan yang ditentukan oleh aktivitas didalamnya tetap menentukan besaran atap. Bagi orang Jawa, semua hitungan dimensi rumah dibuat berdasarkan primbon, yang merupakan sistem kepercayaan orang Jawa yang ditaati karena dipercaya sebagai sistem kebenaran, bukan seperti sistem dunia barat yang ditaati sebagian besar karena sistem hukum.”-Profesor Joseph Prijotomo
”Vernacular artinya adalah bahasa setempat, dalam arsitektur istilah ini untuk menyebut bentuk-bentuk yang menerapkan unsur-unsur budaya, lingkungan termasuk iklim setempat, diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah, struktur, detail-detail bagian, ornamen dll.”
–Yulianto Sumalyo
“…comprising the dwellings and all other buildings of the people. Related to their environmental contexts and available resources they are customarily owner- or community-built, utilizing traditional technologies. All forms of vernacular architecture are built to meet specific needs, accommodating the values, economies and ways of life of the cultures that produce them.” -Encyclopedia of Vernacular Architecture of the World
“Ketrampilan pertukangan, yang dalam arsitektur vernakular adalah salah satu faktor terpenting dalam tradisi arsitektur. Jenis konstruksi berubah setiap waktu, dan apakah kita dapat menyebut jenis konstruksi berdasarkan material baru sebagai bagian baru dari arsitektur vernacular.” -Heinz Frick
“Vernacular architecture is a generalized way of design derived from Folk Architecture, it uses the design skills of Architects to develop Folk Architecture”.
(Bruce Allsopp – 1977:6)
Arsitektur Vernakular yang merupakan pengembangan dari Arsitektur Rakyat memiliki nilai ekologis,arsitektonis dan “Alami” karena mengacu pada kondisi ,potensi Iklim – Budaya dan masyarakat lingkungannya.
(Victor papanek-1995: 113-138).
Arsitektur dibangun untuk mampu menjawab kebutuhan Manusia dan mengangkat derajad hidupnya menjadi lebih baik ,sehingga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Kebudayaan. Arsitektur itu sendiri adalah buah daripada Budaya
(Mario Salvadori/ Ruskin -1974:12).
Arsitektur Vernakular dan jati diri bersama tumbuh dari aspirasi rakyatnya dan mengacu pada masalah masalah yang nyata,tentang lingkungan, iklim dan aspirasi. Dalam hal ini Iklim merupakan faktor yang penting, karena iklim membantu menentukan “bentuk”, baik secara langsung maupun dalam aspek budaya dan ritual. Masyarakat senantiasa berkembang dan berubah namun iklim selalu tetap. (Ken Yeang-1984:14-
15).
Arsitektur Vernakular mengandung kesepakatan yang menanggapi secara positip terhadap IKLIM disamping terhadap Ruang-Waktu dan Budaya. Arsitektur ini juga memberikan prinsip dan simbol masa lalu untuk dapat ditransformasikan kedalam bentuk bentuk yang akan bermanfaat bagi perubahan perubahan
tatanan sosial masa kini .- ARSITEKTUR VERNAKULAR INDONESIA (Wiranto)
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
Apa Itu Arsitektur?
“Arsitektur adalah bagian dari kebudayaan manusia, berkaitan dengan berbagai segi kehidupan antara lain: seni, teknik, ruang/tata ruang, geografi, sejarah. Oleh karena itu ada beberapa batasan dan pengertian tentang arsitektur, tergantung dari segi mana memandang. Dari segi seni, arsitektur adalah seni bangunan termasuk didalamnya bentuk dan ragam hiasnya. Dari segi teknik, arsitektur adalah sistem mendirikan bangunan termasuk proses perancangan, konstruksi, struktur, dan dalam hal ini juga menyangkut aspek dekorasi dan keindahan. Dipandang dari segi ruang, arsitektur adalah pemenuhan kebutuhan ruang oleh manusia atau kelompok manusia untuk melaksanakan aktifitas tertentu. Dari segi sejarah, kebudayaan dan geografi, arsitektur adalah ungkapan fisik dan peninggalan budaya dari suatu masyarakat dalam batasan tempat dan waktu tertentuSebagai seni arsitektur mempunyai arti yang lebih dalam dari sekedar usaha pemenuhan persyaratan fungsional semata-mata dalam sebuah program bangunan. Lebih mendasar lagi, merupakan perwujudan fisik dari arsitektur sebagai wadah kegiatan manusia.
Salah satu alasan mengapa manusia membuat bangunan adalah karena kondisi alam iklim tempat manusia berada tidak selalu baik menunjang aktivitas yang dilakukannya. Aktivitas manusia yang bervariasi memerlukan kondisi iklim sekitar tertentu yang bervariasi pula. Untuk melangsungkan aktivitas kantor, misalnya, diperlukan ruang dengan kondisi visual yang baik dengan intensitas cahaya yang cukup; kondisi termis yang mendukung dengan suhu udara pada rentang-nyaman tertentu; dan kondisi audial dengan intensitas gangguan bunyi rendah yang tidak mengganggu pengguna bangunan.
Karena cukup banyak aktivitas manusia yang tidak dapat diselenggarakan akibat ketidaksesuaian kondisi iklim luar, manusia membuat bangunan. Dengan bangunan, diharapkan iklim luar yang tidak menunjang aktivitas manusia dapat dimodifikasi diubah menjadi iklim dalam (bangunan) yang lebih sesuai.” Dikutip dari http://archmagazine.blogspot.com/2009/11/apa-itu-arsitektur.html
“What is architecture anyway? Is it the vast collection of the various buildings which have been built to please the varying taste of the various lords of mankind? I think not.
“No, I know that architecture is life; or at least it is life itself taking form and therefore it is the truest record of life as it was lived in the world yesterday, as it is lived today or ever will be lived. So architecture I know to be a Great Spirit….
“Architecture is that great living creative spirit which from generation to generation, from age to age, proceeds, persists, creates, according to the nature of man, and his circumstances as they change. That is really architecture.” —Frank Lloyd Wright, from In the Realm of Ideas (compare prices)
“”Architecture is a passion, a vocation, a calling – as well as a science and a business. It has been described as a social art and also an artful science. Architecture must be of the highest quality of design. Architecture provides, in the words of Marcus Vitruvius, the great Roman architect and historian, “firmness, commodity and delight.1”
Architecture provides a sense of place and support of all types of human activity. Architecture helps the man-made fit in harmony with the environment while promoting health and well-being, enriching lives aesthetically and spiritually, providing economic opportunities, and creating a legacy that reflects and symbolizes culture and traditions.
1 1st Century BC Roman Architect Vitruvius is the author of the treatise De architectura. The work is divided into 10 books dealing with city planning and architecture in general; building materials; temple construction; public buildings; private buildings; clocks; hydraulics; and civil and military engines. His work was used as a classic text book from ancient Roman times to the Renaissance.
Firmness refers to structural integrity and durability;
Commodity refers to spatial functionality or in other words, “serving its purpose” and fulfilling the function for which the building was constructed;
Delight means that the building is not only aesthetically and visually pleasing, but also lifts the spirits and stimulates the senses.” Dikutip dari http://www.raic.org/architecture_architects/what_is_architecture/index_e.htm
“Architecture … does not re-create reality, but creates a structure for man’s habitation or use, expressing man’s values,” Rand dalam The Romantic Manifesto.
“(n.) A design. The term architecture can refer to either hardware or software, or to a combination of hardware and software. The architecture of a system always defines its broad outlines, and may define precise mechanisms as well.
An open architecture allows the system to be connected easily to devices and programs made by other manufacturers. Open architectures use off-the-shelf components and conform to approved standards. A system with a closed architecture, on the other hand, is one whose design is proprietary, making it difficult to connect the system to other systems.” Dikutip dari http://www.webopedia.com/TERM/A/architecture.html
”Architecture is generally considered an art but is differentiated by it in one respect: function. Regardless, defining architecture is almost, if not as, difficult as defining art. To define architecture is to set parameters, standards by which anything applied to these criteria will either fit the definition or not. The definition must take certain conditions into account that must be present in order for something to be considered architecture. Some of these may include, in reference to a candidate for a piece of architecture: it must be material, it must transcend mere function, it must be aesthetic and it must be designed by an architect. These are some criteria that are generally agreed upon by the public and most architects as necessary traits of architecture. If we look at these briefly, though, small arguments arise that challenge the validity of these claims.” Dikutip dari http://www.archidose.org/Mar00/032700.html
“Architecture, the art of building in which human requirements and construction materials are related so as to furnish practical use as well as an aesthetic solution, thus differing from the pure utility of engineering construction. As an art, architecture is essentially abstract and nonrepresentational and involves the manipulation of the relationships of spaces, volumes, planes, masses, and voids. Time is also an important factor in architecture, since a building is usually comprehended in a succession of experiences rather than all at once. In most architecture there is no one vantage point from which the whole structure can be understood. The use of light and shadow, as well as surface decoration, can greatly enhance a structure.” Dikutip darihttp://www.factmonster.com/ce6/world/A0804589.html
“Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.” Dikutip dari http://desainfo.blogspot.com/2009/01/apa-itu-arsitektur.html
“Arsitektur bukanlah barang baru, sejak dulu menjadi bahan perbincangan, diskusi dan kekaguman bahkan ada pula yang dinista. Sampai kinipun cukup banyak pendapat dan telaah tentang arsitektur. Mulai dari metode merancang, teori, sampai pengaruh dan apresiasi arsitektur. Tak heran jika arsitektur memiliki definisi yang banyak dan beragam. Pada zaman Vitruvius arsitektur identik dengan gedung (termasuk kota/ benteng, aquaduct/instalasi air) tetapi kini kata arsitektur juga dipakai oleh disiplin ilmu lain seperti istilah arsitektur computer, arsitektur internet, arsitektur kapal, arsitektur strategi perang bahkan ada istilah arsitektur parsel. Secara gamblang istilah-istilah itu merujuk pada gagasan atau ide rancangan yang akan diwujudkan menjadi nyata.
Secara spesifik arsitektur adalah keseluruhan proses mulai dari pemikiran/ ide/ gagasan, kemudian menjadi karya/ rancangan, dan diwujudkan menjadi hasil karya nyata yang dilakukan secara sadar (bukan berdasarkan naluri) dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan ruang guna mewadahi aktivitas/ kegiatannya yang diinginkan serta menemukan eksistensi dirinya. Jadi, jika arsitektur tidak pure termasuk kelompok seni juga tidak pure termasuk kelompok teknologi.” –MEMBANGUN FILSAFAT ARSITEKTUR oleh Debbie A. J. Harimu.
Apa Itu Arsitektur Vernakular?
“Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dariarsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berjangkarpada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkanpengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan materiallokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untukterjadinyatransformasi.”-Turan dalam Vernacular Architecture”Arsitektur vernacular itu adalah pengejawentahan yang jujur dari tata cara kehidupan masyarakat dan merupakan cerminan sejarah dari suatu tempat.”- Romo Manguwijaya
“Arsitektur vernakular merupakan bentuk perkembangan dari arsitektur tradisional, yang mana arsitektur tradisional sangat lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan kehidupan masyarakat, wawasan masyarakat serta tata laku yang berlaku pada kehidupan sehari-hari masyarakatnya secara umum, sedangkan arsitektur vernakular merupakan transformasi dari situasi kultur homogen ke situasi yang lebih heterogen dan sebisa mungkin menghadirkan citra serta bayang-bayang realitas dari arsitektur tradisional itu sendiri.” -Sonny Susanto, salah seorang dosen arsitek pada Fakultas Teknik UniversitasIndonesia.
“Arsitektur-vernakular sebagai suatu kumpulan rumah dan bangunanpenunjang lain yang sangat terikat dengan tersedianya sumber-sumber darilingkungan.”- Oliver dalam Encyclopedia of vernacular-architecture of the world
“Kata Vernakular berasal dari vernaculus (latin) berarti asli (native). Maka vernakulararsiektur dapatdiartikan sebagai arsitektur asli yang dibangunoleh masyarakat setempat.” Dikutip dari http://ml.scribd.com/doc/45304439/ARSITEKTUR-VERNAKULAR
“Arsitektur vernakular konteks denganlingkungansumber daya setempat yang dibangun oleh suatumasyarakat dengan menggunakan teknologi sederhana untukmemenuhi kebutuhan karakteristik yang mengakomodasi nilaiekonomi dan tantanan budaya masyarakat dari masyarakattersebut. Arsitektur vernakular ini terdiri dari rumah danbangunan lain seperti lumbung, balai adat dan lain sebagainya.”-Paul Oliver dalam Ensikolopedia Arsitektur Vernakular.
“Sebagai produk budaya, arsitektur dipengaruhi oleh faktor lingkungan : geografis, geologis, iklim, suhu; faktor teknologi : pengelolaan sumber daya, ketrampilan teknis bangunan; faktor budaya : falsafah, persepsi, religi, struktur social dan keluarga, dan ekonomi.”-Altmandalam Environtment and culture
“Arsitektur vernakular adalah suatu karya arsitektur yang tumbuh dari arsitektur rakyat dengan segala macam tradisi dan mengoptimalkan atau memanfaatkan potensi-potensi lokal. Misalnya material,teknologi, pengetahuan, dsb. Dikarenakan arsitektur vernakular sangat mengoptimalkan potensi atau budaya lokal, maka suatu bangunan yang berkonsep vernakular sangat mempertimbangkan kelestarian lingkungan sehingga juga bersifat sustainable architecture. Arsitektur vernakular ditemukan secara trial and error oleh rakyat itu sendiri. Jenis arsitektur vernakular yang ada dapat dipisahkan sebagai vernakular-tradisional dan vernakular-modern. Terjadinya bentuk-bentuk atau model vernakular disebabkan oleh enam faktor yang dikenal sebagai modifying factor diantaranya adalah
- Faktor Bahan
- Metode Konstruksi
- Faktor Teknologi
- Faktor Iklim.
- Pemilihan Lahan
- Faktor sosial-budaya”
“Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi. Arsitektur ini tetap bertahan dalam beragam bentuk yang dikenal sebagai bangunan tradisional Indonesia yang umum dipakai dalam berbagai kegunaan, baik sakral maupun non sakral. Bangunan yang termasuk dalam tradisi-tradisi arsitektur vernakular Indonesia yang paling penting dan paling sering dibangun adalah rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal, lumbung, dan berbagai macam tempat penyimpanan dan bangunan umum (balai, bale) yang digunakan sebagai tempat diselenggarakannya ritual, upacara atau pertemuan warga. Di beberapa tempat di Indonesia, bangunan rumah tradisional hampir punah, yang tersisa adalah sebuah rumah yang selamat karena alasan tertentu, atau beberapa rumah yang sengaja dibangun sebagai model tipe rumah tradisional tertentu, atau beberapa rumah yang dibangun berdasarkan arsitektur modern yang ditambah fitur dan karakter tradisi arsitektur vernakular.” – Arsitektur Vernakular Indonesia: Peran, Fungsi, dan Pelestarian di dalam Masyarakat oleh Ade Sahroni
Puslitbang Arkenas
“Tentang arsitektur vernakular Jawa Timur, adalah arsitektur pernaungan, yaitu suatu cara untuk bernaung menghadapi iklim, dimana atap adalah bagian terpenting dari desain arsitektur vernakular. Meskipun demikian, sebenarnya denah maupun luas bangunan yang ditentukan oleh aktivitas didalamnya tetap menentukan besaran atap. Bagi orang Jawa, semua hitungan dimensi rumah dibuat berdasarkan primbon, yang merupakan sistem kepercayaan orang Jawa yang ditaati karena dipercaya sebagai sistem kebenaran, bukan seperti sistem dunia barat yang ditaati sebagian besar karena sistem hukum.”-Profesor Joseph Prijotomo
”Vernacular artinya adalah bahasa setempat, dalam arsitektur istilah ini untuk menyebut bentuk-bentuk yang menerapkan unsur-unsur budaya, lingkungan termasuk iklim setempat, diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah, struktur, detail-detail bagian, ornamen dll.”
–Yulianto Sumalyo
“…comprising the dwellings and all other buildings of the people. Related to their environmental contexts and available resources they are customarily owner- or community-built, utilizing traditional technologies. All forms of vernacular architecture are built to meet specific needs, accommodating the values, economies and ways of life of the cultures that produce them.” -Encyclopedia of Vernacular Architecture of the World
“Ketrampilan pertukangan, yang dalam arsitektur vernakular adalah salah satu faktor terpenting dalam tradisi arsitektur. Jenis konstruksi berubah setiap waktu, dan apakah kita dapat menyebut jenis konstruksi berdasarkan material baru sebagai bagian baru dari arsitektur vernacular.” -Heinz Frick
“Vernacular architecture is a generalized way of design derived from Folk Architecture, it uses the design skills of Architects to develop Folk Architecture”.
(Bruce Allsopp – 1977:6)
Arsitektur Vernakular yang merupakan pengembangan dari Arsitektur Rakyat memiliki nilai ekologis,arsitektonis dan “Alami” karena mengacu pada kondisi ,potensi Iklim – Budaya dan masyarakat lingkungannya.
(Victor papanek-1995: 113-138).
Arsitektur dibangun untuk mampu menjawab kebutuhan Manusia dan mengangkat derajad hidupnya menjadi lebih baik ,sehingga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Kebudayaan. Arsitektur itu sendiri adalah buah daripada Budaya
(Mario Salvadori/ Ruskin -1974:12).
Arsitektur Vernakular dan jati diri bersama tumbuh dari aspirasi rakyatnya dan mengacu pada masalah masalah yang nyata,tentang lingkungan, iklim dan aspirasi. Dalam hal ini Iklim merupakan faktor yang penting, karena iklim membantu menentukan “bentuk”, baik secara langsung maupun dalam aspek budaya dan ritual. Masyarakat senantiasa berkembang dan berubah namun iklim selalu tetap. (Ken Yeang-1984:14-
15).
Arsitektur Vernakular mengandung kesepakatan yang menanggapi secara positip terhadap IKLIM disamping terhadap Ruang-Waktu dan Budaya. Arsitektur ini juga memberikan prinsip dan simbol masa lalu untuk dapat ditransformasikan kedalam bentuk bentuk yang akan bermanfaat bagi perubahan perubahan
tatanan sosial masa kini .- ARSITEKTUR VERNAKULAR INDONESIA (Wiranto)
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
Apa Itu Arsitektur Tradisional?
“Arsitektur tradisional adalah karya dari pewarisan/penerusan norma-norma adat istiadat atau pewarisan budaya yang turun temurun dari generasi ke generasi.” http://architect-news.com/index.php/arsitektur-tradisional/69-tatanan-tradisional/96-antara-arsitektur-vernakular-tradisional-nusantara-dan-indonesiaPerbedaan antara arsitektur vernakular dengan arsitektur tradisional
- Arsitektur vernakular pada cara –cara mendesain dan mendirikan bangunan dilakukan dengan efektif dan efisien ditemukan melalui sistem trial and error.
- Arsitektur tradisional adalah arsitektur yang dibuat dengan cara yang sama secara turun temurun dengan sedikit atau tanpa adanya perubahan-perubahan yang signifikan pada bangunan tersebut.
sangat membantu untuk menambah wawasan
BalasHapusmembantu untuk menambah wawasan
BalasHapussangat membantu untuk menambah wawasan
BalasHapusSebuah Ilmu yang bermanfaat.
BalasHapusMakasih Ilmunya